Breaking

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Dorong 4,06 Juta UMKM Olah Pangan Lokal Jadi Produk Bernilai Tinggi

RE
Jumat, 02 Oktober 2026
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Dorong 4,06 Juta UMKM Olah Pangan Lokal Jadi Produk Bernilai Tinggi

SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan potensi pangan lokal tidak seharusnya berhenti pada penjualan bahan mentah. Melalui pengolahan dan inovasi, bahan pangan dari daerah dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus membuka peluang usaha dan pasar baru.

Data Sistem Informasi Data Tunggal Kementerian UMKM tahun 2025 mencatat Jawa Tengah memiliki sekitar 4,06 juta UMKM. Sebanyak 97,95 persen di antaranya merupakan usaha mikro.

"Pangan lokal tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga bagaimana bahan baku yang ada di daerah dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi, menciptakan peluang usaha, dan membuka pasar yang lebih luas," ujar Luthfi.

Pendampingan hingga Kredit Berbunga Rendah dari Bank Jateng

Pemprov Jawa Tengah mendukung pengembangan UMKM melalui pendampingan dan pembinaan usaha. Akses pembiayaan diperkuat lewat fasilitas kredit berbunga rendah dari Bank Jateng.

Menurut Luthfi, dukungan tersebut diperlukan agar pelaku UMKM dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mengembangkan usaha. Peningkatan kualitas produk, penguatan legalitas, hingga perluasan akses pasar menjadi bagian dari upaya tersebut.

Luthfi juga mengapresiasi Lumbung Karya Indonesia yang memberi ruang bagi proses kurasi, pembinaan, dan promosi produk UMKM. Ia berharap kegiatan serupa digelar rutin untuk memperluas kesempatan pelaku usaha memperkenalkan produk kepada pasar.

"Saya mengapresiasi Lumbung Karya Indonesia. Kalau bisa, kegiatan seperti ini dilakukan setiap bulan," katanya.

Lima UMKM Raih Penghargaan, dari Mocaf hingga Cumi

Dalam kegiatan tersebut, lima UMKM menerima penghargaan atas inovasi dan potensi pengembangan usaha:

  • Tococo Indonesia — Best Local Roots Innovation
  • Nirbaya Mocaf — Best Innovation & Transformation
  • PT Allisha Gesang Sejahtera — Best Business Readiness
  • Dalem Wangi — Most Impactful & Replicable
  • Cumi Item Rasa Yang Berkah — Best Growth Potential

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah Nirbaya Mocaf, usaha pengolahan singkong yang diinisiasi Lapas Nirbaya di Nusakambangan, Cilacap. Program itu melibatkan warga binaan dalam pengembangan berbagai produk berbahan dasar singkong.

Singkong Dua Ton per Minggu, 80 Persen Bahan Es Krim

Kepala Lapas Nirbaya Nusakambangan, Helmi Najih, mengatakan bahan baku singkong diperoleh dari Cilacap dan sekitarnya, termasuk kebun yang dikelola warga binaan. Produksi singkong yang diolah mencapai sekitar dua ton per minggu.

Produk yang dihasilkan tidak hanya berupa modified cassava flour (mocaf). Singkong juga dikembangkan menjadi bahan baku berbagai produk olahan, termasuk es krim yang sekitar 80 persen bahannya berasal dari singkong.

"Kami membeli singkong dengan harga sesuai ketentuan pemerintah. Tepung mocaf juga kami olah menjadi es krim, sehingga sekitar 80 persen bahan es krim berasal dari singkong," ujar Helmi.

Pengembangan produk juga diarahkan untuk memanfaatkan hasil samping pengolahan. Kulit singkong diolah menjadi bahan produk fermentasi, sedangkan ampasnya dimanfaatkan sebagai pakan ayam petelur.

Kolaborasi Pertanian dan Industri Pengolahan

Staf Ahli Bidang Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Sugeng Santoso, menilai kegiatan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan dan perekonomian daerah. Keterlibatan UMKM, perusahaan rintisan, dan pelaku ekonomi kreatif subsektor kuliner dinilai dapat mendorong pemanfaatan pangan lokal secara lebih produktif.

Ia menyoroti pentingnya kolaborasi sektor pertanian dan industri pengolahan. Hasil pertanian perlu dikembangkan tidak hanya sebagai bahan baku, tetapi juga menjadi produk olahan bernilai tambah.

Keterlibatan warga binaan dalam kegiatan produktif di Lapas Nirbaya menjadi bagian dari pembinaan keterampilan dan kemandirian ekonomi. Peningkatan kualitas produk, inovasi, pembiayaan, pendampingan, dan akses pasar menjadi kunci agar produk UMKM memiliki daya saing dan memberi nilai tambah bagi perekonomian daerah.

Sumber: maklumat.id

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua