Pameran Tunggal Malya Sasmaya di Balai Pemuda Surabaya Angkat Dialog Batik Tanjung Bumi
SURABAYA — Malya Sasmaya, perupa berusia 17 tahun asal Sanggar DAUN Surabaya, memilih motif Tanjung Bumi sebagai bahan utama pameran tunggal pertamanya. Karya-karya itu lahir dari observasi selama satu tahun di sentra Batik Tulis Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura. Pameran berlangsung di Galeri Merah Putih, Jalan Gubernur Suryo Nomor 15, Balai Pemuda Surabaya.
Galeri buka setiap hari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. Pengunjung tidak dipungut biaya masuk. Pembukaan resmi digelar Sabtu (26/9/2026) pukul 16.00-21.00 WIB.
Dari Kekaguman Warna ke Pertemuan dengan Pembatik Tanjung Bumi
Ketertarikan Malya pada batik Madura bermula dari warnanya. Merah Madura dinilainya berbeda dari batik daerah lain. Titik balik terjadi saat ia menyambangi langsung Tanjung Bumi dan bertemu para pembatik perempuan di sana.
"Awalnya aku cuma suka warnanya. Merah Madura itu berani banget, beda dari batik lain. Tapi setelah aku ke Tanjung Bumi dan ketemu langsung ibu-ibu pembatiknya, aku baru paham," kata Malya.
Dari pengamatan itu, ia menyoroti jam kerja panjang para pembatik. Mereka mulai membatik pukul 4 pagi hingga malam, dengan penglihatan yang mulai menurun namun tangan tetap hafal setiap cecek dan motif ayam alas.
"Mereka cerita, anak-anak muda sekarang banyak yang tidak mau melanjutkan karena tidak menjanjikan uang," ujarnya.
Pertanyaan yang Dibawa Malya ke Atas Kanvas
Temuan itu melahirkan pertanyaan yang menjadi dasar pamerannya. Malya mempersoalkan apakah budaya diwariskan secara otomatis atau harus dipilih untuk dijaga.
"Di situ aku jadi bertanya, apa budaya itu sesuatu yang otomatis kita warisi, atau sesuatu yang harus kita pilih untuk kita jaga?," kata dia.
Malya mengolah cat akrilik dan kolase batik tulis Madura di atas kanvas. Potongan kain batik asli dipadukan dengan sapuan akrilik abstrak. Ia menolak menempatkan batik sekadar sebagai elemen dekoratif.
"Di pameran ini aku tidak ingin batik cuma jadi kain cantik yang ditempel. Aku ingin berdialog dengannya. Kadang aku biarkan batiknya yang mendominasi, kadang aku lawan dengan cat akrilikku yang abstrak dan kasar," terangnya.
Karya Utama "Dialog Tanjung Bumi" Berukuran 200 x 180 Sentimeter
Karya utama pameran ini berjudul "Dialog Tanjung Bumi" berukuran 200 x 180 sentimeter. Karya tersebut ditempatkan di bagian depan galeri, memadukan batik utuh dengan bidang biru laut dan satu goresan merah.
Dua karya lain, "The Beauty of Batik Madura" berukuran 100 x 100 sentimeter dan "Merahnya Merah" berukuran 180 x 145 sentimeter, mengeksplorasi bentuk, warna, dan karakter batik Madura. Ada pula karya "Fragmen" yang terdiri dari 12 panel masing-masing 20 x 20 sentimeter. Seri itu tidak memakai kolase kain batik.
Kurator: Pameran Ini soal Dialog Dua Tangan dan Dua Zaman
Kurator Arik S. Wartono menilai pameran ini tidak semata membicarakan batik. Menurutnya, yang dipertemukan adalah pengalaman perupa muda dengan tradisi pembatik Madura.
"Ini bukan pameran tentang batik. Ini adalah pameran tentang dialog. Dialog antara dua tangan dan dua zaman: tangan perupa muda Surabaya yang abstrak dengan tangan pembatik perempuan Madura yang sabar," kata Arik.
Arik menyebut Malya membawa batik dari konteks artefak tradisional ke ruang ekspresi seni kontemporer.
"Malya tidak menjadikan batik sebagai artefak mati di museum. Ia menghidupkannya kembali di atas kanvas masa kini," tegasnya.
Pameran tunggal ini menjadi yang pertama bagi Malya. Sejumlah karyanya sebelumnya tampil di ARTJOG KIDS 2023 dan pameran di Look and Learn Gallery London.