Breaking

Wagub Emil Ajak Warga Jatim Lestarikan Batik, Pengrajin Daerah Diminta Dapat Ruang Lebih Besar

RE
Senin, 05 Oktober 2026
Wagub Emil Ajak Warga Jatim Lestarikan Batik, Pengrajin Daerah Diminta Dapat Ruang Lebih Besar

SURABAYA — Dalam peringatan Hari Batik Nasional 2026 di Monumen Kapal Selam Surabaya, Emil menyoroti posisi pengrajin sebagai penjaga keberlanjutan batik dari generasi ke generasi. Ia menilai keberagaman motif dan corak yang muncul dari berbagai daerah di Indonesia menjadi kekayaan yang wajib dirawat bersama.

Menurut Emil, batik bukan hasil kerja satu kelompok atau satu wilayah tertentu. Karya itu lahir dari tangan-tangan pengrajin yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, sehingga apresiasi terhadap mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari pelestarian batik itu sendiri.

“Bagi kita yang menjadi generasi penerus, kita harus terus semangat untuk melestarikan batik. Batik ini adalah karya dari seluruh pengrajin batik dari Sabang sampai Merauke. Mereka semua berhak untuk diapresiasi karyanya,” kata Emil.

Mengenakan Batik Saja Tidak Cukup

Emil menekankan pelestarian batik tidak berhenti pada kebiasaan memakai batik di momen tertentu. Masyarakat perlu mengenal, menggunakan, dan menghargai karya para pengrajin yang menjaga keberlanjutan batik dari generasi ke generasi.

Semakin banyak ruang yang dibuka bagi pengrajin untuk menampilkan karya, menurutnya, semakin besar peluang batik berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan akar budayanya.

“Jadi bukan hanya batiknya yang kita lestarikan, tetapi juga orang-orang yang membuat batik itu sendiri. Mereka harus mendapatkan ruang untuk berkarya, berinovasi dan memperkenalkan hasil karyanya kepada masyarakat,” ujarnya.

Batik Bertahan karena Mampu Beradaptasi

Perkembangan batik saat ini, kata Emil, menunjukkan warisan budaya bisa terus hidup ketika mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan selera masyarakat. Adaptasi itu tidak menghapus nilai tradisi, melainkan memperluas jangkauan batik ke generasi baru.

Ia menempatkan generasi muda sebagai kunci. Mengenal dan menggunakan batik dalam keseharian dinilai menjadi cara paling nyata menjaga keberadaan karya tersebut.

“Batik harus terus hidup. Salah satu caranya adalah bagaimana kita memberikan kesempatan kepada para pengrajin untuk terus berkarya dan bagaimana masyarakat ikut menggunakan serta menghargai karya mereka,” katanya.

Harapan agar Peringatan Tidak Sekadar Seremonial

Emil berharap peringatan Hari Batik Nasional tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Momentum tahunan itu diharapkannya memperkuat kecintaan masyarakat terhadap batik dan memperluas apresiasi terhadap para pengrajinnya.

“Semangatnya adalah bagaimana warisan budaya ini terus kita jaga, tetapi pada saat yang sama para pengrajinnya juga mendapatkan manfaat dan ruang yang semakin luas,” katanya.

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Bidang Usaha Dekranas Metty Herindra, Ketua Dekranasda Jatim Arumi Bachsin, Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin, serta Ketua Dekranasda Kota Surabaya Rini Heri Cahyadi. Turut hadir para ketua Dekranasda kabupaten/kota se-Jatim dan sejumlah perwakilan daerah dari seluruh Indonesia.

Sumber: klikjatim.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua