Khofifah Ajak Seluruh Elemen Jatim Teken Pakta Jaga Kerukunan di Ruang Digital, Tekankan Kritik Tak Perlu Jadi Permusuhan
SURABAYA — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa menjaga persatuan saat ini tidak cukup hanya dilakukan di dunia fisik. Menurutnya, diseminasi informasi yang sehat di ruang digital menjadi kunci utama menjaga keharmonisan masyarakat.
"Menjaga persatuan hari ini tentu tidak cukup hanya fisik, tapi bahwa diseminasi informasi ini menjadi sangat penting untuk kita lakukan secara digital," kata Khofifah di Surabaya, Rabu.
Penandatanganan pakta tersebut melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), organisasi kepemudaan, hingga organisasi kemasyarakatan. Kegiatan ini diawali dengan pembacaan Deklarasi Surabaya 2026 oleh Ketua FKUB Jawa Timur Hamid Syarif.
Isi Deklarasi Surabaya 2026 dan Peran Ruang Digital
Deklarasi tersebut memuat komitmen bersama untuk menjaga persatuan, memperkuat kohesi sosial, serta mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, damai, harmonis, dan bermartabat.
Khofifah menjelaskan, ruang digital kini telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Platform digital dimanfaatkan untuk mencari informasi, menyampaikan aspirasi, membangun jejaring, hingga menjalankan aktivitas ekonomi.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2026 menunjukkan penetrasi internet di Jawa Timur mencapai 83,41 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di posisi 81,72 persen.
Kritik untuk Demokrasi, Bukan untuk Memecah Belah
Di hadapan para tokoh lintas agama dan organisasi masyarakat, Khofifah mengingatkan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi. Namun, ia meminta perbedaan tersebut tidak berujung pada permusuhan.
"Kritik itu dibutuhkan untuk membangun demokrasi yang sehat, tetapi membangun kebersamaan dan persatuan itu jauh lebih penting," ujarnya.
Ia menambahkan, ruang digital harus dimanfaatkan secara bijak agar tidak memperlebar jarak sosial maupun melemahkan persatuan bangsa. Menurutnya, budaya tepo seliro dan gotong royong yang sudah mengakar harus tetap dijaga di tengah derasnya arus informasi.
"Kita ini sudah terbiasa membangun tepo seliro, kegotongroyongan, dan harmoni. Serta semua tetap di dalam semangat membangun NKRI sekaligus membangun demokrasi yang sehat," katanya.
Kerukunan sebagai Modal Sosial dan Ekonomi Jatim
Khofifah menekankan bahwa kerukunan bukan sekadar tidak adanya konflik, melainkan hadirnya rasa saling menghormati, saling menjaga, dan saling menguatkan. Ia menyebut kerukunan sebagai modal utama Jawa Timur dalam merawat Bhinneka Tunggal Ika.
"Kerukunan bukan sekadar tidak adanya konflik, tetapi hadirnya rasa saling menghormati, saling menjaga, dan saling menguatkan. Kerukunan adalah modal utama Jawa Timur dalam merawat Bhinneka Tunggal Ika," ujar Khofifah.
Momentum Bulan Kemerdekaan ini pun dijadikan ajang untuk menghidupkan kembali semangat kebhinekaan melalui gotong royong, harmoni, heroisme, dan nasionalisme. Khofifah juga mengajak seluruh pihak mengaktifkan semangat "Jogo Jatim" bersama jajaran kepolisian untuk menjaga iklim ekonomi dan investasi daerah.
"Dengan semangat kebersamaan inilah, kita optimistis Jawa Timur akan semakin kuat, harmonis, dan sejahtera. Sebab, menjaga kerukunan di Jawa Timur sesungguhnya adalah menjaga persatuan Indonesia. Jogo Jawa Timur berarti Jogo Indonesia," katanya.