JAKARTA — Kolintang dari Minahasa berpadu dengan balafon Afrika Barat dalam acara "Celebrating Kolintang" di Markas Besar UNESCO, Paris. KBRI Paris bersama Delegasi Tetap RI untuk UNESCO mengusung pesan budaya sebagai ruang dialog dan kerja sama antarbangsa. Siaran pers KBRI Paris yang diterima di Jakarta, Sabtu, menyebut pertunjukan itu melibatkan Grup PINKAN Kolintang Indonesia dan seniman balafon.

Dubes Oemar menilai pengakuan dan apresiasi yang semakin luas terhadap suatu warisan budaya tidak menghapus identitas dan kepemilikannya. Sebaliknya, hal itu justru memperkuat penghormatan terhadap warisan budaya tersebut. Baginya, kolintang membawa dimensi diplomasi yang jauh lebih luas dari pertunjukan seni semata.

Kolintang Masuk Perluasan Nominasi Balafon pada 2024

Perjalanan kolintang di UNESCO punya jejak internasional yang kuat. Kolintang masuk dalam perluasan nominasi balafon yang diajukan Mali, Burkina Faso, dan Côte d'Ivoire pada 2024. UNESCO kemudian menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda bersama tradisi balafon.

Kolintang dan balafon dari komunitas berbeda dipertemukan dalam semangat shared cultural heritage serta kerja sama lintas negara. Pertemuan dua tradisi musik ini menjadi contoh bagaimana warisan budaya bisa menjadi jembatan antarnegara, bukan sekat pemisah.

Pesan Dubes Oemar: Perbedaan Membuka Ruang Dialog

Dalam sambutannya, Dubes Oemar menyoroti peran kebudayaan di tengah dunia yang kerap menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan.

"Di tengah dunia yang sering menjadikan perbedaan sebagai sumber perpecahan, kebudayaan menawarkan kemungkinan lain, perbedaan membuka ruang dialog, dialog membangun kepercayaan, dan kepercayaan membantu kita membangun perdamaian," katanya.

Pernyataan itu menegaskan posisi kolintang bukan hanya sebagai alat musik, tetapi bagian dari diplomasi budaya Indonesia di forum multilateral.

UNESCO Tekankan Peran Komunitas dalam Menjaga Warisan

Assistant Director-General for Culture UNESCO Nayef Al-Fayez menekankan pentingnya warisan budaya dan peran komunitas dalam menjaganya bagi generasi mendatang. Ia menyebut semangat UNESCO bukan soal siapa memiliki apa.

"Semangat UNESCO bukan tentang siapa memiliki apa. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana komunitas tetap menjadi pusat, bagaimana pengetahuan diwariskan kepada generasi berikutnya, dan bagaimana sebuah warisan tetap hidup," katanya.

Kolaborasi "La Vie en Rose" Simbol Perjumpaan Asia-Afrika

Pada kesempatan itu, Grup PINKAN Kolintang Indonesia membawakan sejumlah lagu nusantara. Seniman balafon menampilkan musik tradisional mereka. Keduanya kemudian berkolaborasi membawakan "La Vie en Rose" sebagai simbol perjumpaan budaya Asia-Afrika.

Acara ini juga menjadi bagian dari rangkaian Hari Batik Nasional pada 2 Oktober. Kegiatan tersebut sekaligus memperkenalkan kekayaan ekspresi budaya Indonesia kepada komunitas internasional di UNESCO.

Reporter: Redaksi